agony is your triumph

montage of possibilities

kita dididik menjadi pintar (barangkali) untuk bisa menguasai orang lain.

iya, barangkali.

tadi siang akhirnya mampir ke bazaar buku di food court kampus yang gedung satu ini bisalah disandingkan dengan mall. masih perasaan janggal yang sama seperti seminggu lalu melewati deretan stand penerbit tanpa ingin menengok untuk sekedar mempertanyakan apakah hasrat ingin mampir perlu dipenuhi.

seminggu yang lalu saya cuma memandang dari lantai 7, di sela memantau volunteer asisten pengajaran komputer dasar untuk anak-anak jalanan petamburan : saya merinding.
dulu saya selalu beranggapan bahwa halal hukumnya untuk menghabiskan uang berapa pun banyaknya untuk beli buku, karena buku adalah sumber ilmu. sejak seminggu yang lalu memandangi bazaar buku dari lantai atas, saya mengharamkan fatwa saya sendiri.

jangan-jangan kita ini dibentuk untuk percaya bahwa derajat kita menjadi tinggi dengan memiliki banyak ilmu dari banyak membaca buku (yang belinya aja pake pengorbanan, misalnya). padahal pengetahuan yang asalnya dari buku ini kemudian menjadi milik orang-orang berduit, yang mampu beli buku, karena buku sendiri kan juga komoditi pasar.
banyak orang yang bisa beli buku berapa pun harganya, sama-sama untuk dapet ilmu, menemukan idea dari beli dan baca buku; tapi berapa banyak yang ilmunya gak cuma dipake buat self-satisfaction dengan pernyataan subliminal “eh gue orang pinter loh. hobinya baca buku. daripada nonton tivi.”
berdasar tapi tidak mendasar.
kepemilikan ilmu hanya dari buku yang mahal harganya jangan jangan membentuk pola pikir bahwa kecerdasan bisa dijadikan justifikasi untuk menindas orang lain. karena orang merasa pintar maka ia berhak menjadi superior atas yang lainnya. kecenderungannya sekarang demikian. kadang suka ngeselin sih denger temen protesin orang yang enggak paham tentang sesuatu tanpa mikir untuk terlebih dahulu kasih pemahaman ke mereka. enggak semua orang punya kesempatan yang sama untuk mengetahui sesuatu.

tapi toh sama saja. tadi saya akhirnya beli buku lagi juga. soal konspirasi penghancuran kretek indonesia. padahal di rumah masih sebagian baca buku mengupas semiotika orde barunya pak arief adityawan, ngutang selesaiin baca Gentar Gender untuk keperluan proyek DKV saya semester ini, baik buku satu dan buku dua.

dan detik ini saya menyesal lagi. kenapa beli buku lagi.
padahal belum implementasi ilmu apa-apa ke masyarakat. mungkin sudah, tapi sedikit dan tidak signifikan. banyak ilmu yang harusnya bisa dikembalikan untuk masyarakat kembali.
menjadi pinter cuma biar orang tahu kita pintar dengan banyak tahu tapi enggak kasih ilmu apa-apa…… itu ngapain juga ya. 

3 months ago
  1. postdysphoria posted this