amorfati

oldbookillustrations:

The plague.

Carl Larsson, from Singoalla, by  Viktor Rydberg, Stockholm, 1894.

A zip file containing the six illustrations of the latest series can be downloaded at this link.

(Source: archive.org)

oldbookillustrations:

The plague.

Carl Larsson, from Singoalla, by Viktor Rydberg, Stockholm, 1894.

A zip file containing the six illustrations of the latest series can be downloaded at this link.

(Source: archive.org)

“Problem terbesarku adalah menghilangkan waktu karena waktu membunuh. Di dalam kedigdayaan sang waktu manusia hanyalah mayat-mayat merah jambu. Jika waktu tak ada, manusia akan mengada, baka.”

—   Muhammad Isa Daud dalam Tentang Pengarang yang Merasa Telah Membunuh Roland Barthes dan Beberapa Alasan Mengapa Dia Menulis Novel Pendek (Buku Cerita Surga Sungsang - Triyanto Triwikromo)

null

barangkali memang benar bahwa kita hanya butuh akhir pekan yang baik untuk sekedar melarikan diri dari rutinitas, kerumunan yang palsu, serta omongan-omongan media sosial yang menjenuhkan. tadinya, saya kira, media sosial sedikit banyak dapat membangun realitas alternatif dari apa yang dipaksakan bagi diri kita untuk dihadapi sehari-hari. realitas alternatif yang terbangun itu, sayangnya, hanya menggandakan kepalsuan-kepalsuan diri yang kita sembunyikan dan kompromikan dengan apik. bagi saya, yang menakutkan saat ini ialah kecenderungan untuk ‘merekam’ hal-hal baik ke akun media sosial sesegera kita melakukannya. sebusuk-busuknya tingkah laku saya pada usia sekarang ini, saya masih menganut apa yang alkitab katakan dengan, “janganlah diketahui tangan kananmu apa yang dikerjakan tangan kirimu.” sewaktu kanak ibu saya mengajari untuk menggenggam seerat dan setertutup mungkin uang kolekte yang hendak dimasukkan ke dalam kantung yang diedarkan saat misa. sayangnya urusan-urusan moral dan kebaikan, sebanyak apapun nilai-nilai alternatif yang kita anggap telah kita ajukan dan lakukan di luar nilai-nilai konvensionalnya, tetap menuntut kita untuk menjadi ekshibisionis. lucunya kita bisa menutupi syahwat dan aurat tapi merasa tak perlu mempermasalahkan pameran kepongahan masing-masing kita untuk berkata bahwa, “lihat, saya berbuat kebaikan.” akhir-akhir ini saya dilanda rasa jijik yang luar biasa terhadap realitas alternatif di media sosial. seburuk kejengahan yang melanda di antara orang-orang yang bagi saya menakjubkan masih dapat bertahan hidup dengan cara berpikirnya yang sedemikian buruk. saat ini, sebenarnya, saya tak bisa tidur, dan menyusun rencana untuk menulis yang mungkin akan saya beri judul “gender, nevertheless” yang akan saya awali dengan pernyataan misoginis berbunyi: i despise pretty faces whose zero brain. tapi mengelaborasinya tentu butuh tingkat keterjagaan yang lebih baik dari jam-jam seperti sekarang ini. omong-omong tentang tulisan, saya jadi ingat catatan saya sehabis nonton transformer tempo hari, yang entah jika ingin saya bantah atau perkaya. yang pasti, sehabis nonton dawn of the planet of the apes kemarin, membuat saya lebih ingin terkekeh. independensi total sepertinya memang hanya bagus untuk kita rekam dalam prosa. ketergantungan adalah niscaya. kadangkala kita toh malas untuk benar-benar memilih dan bertanggung jawab atas setiap kebebasan yang dikutukkan pada kita. dan migrain mulai mampir di kepala tapi saya tak bisa tidur. saran saya, lain kali, selalu siapkan alarm sebentar apapun tidur siang kau rencanakan.

-

Kita mungkin tak perlu lagi percaya perihal omong kosong yang pernah hinggap di kepala kita tiap kuseduhkan kopi pagi untuk kita berdua. Ruang singgah yang begitu sementara hanya mengekalkan perasaan yang sia-sia. Aku bisa saja ingin terjaga pada subuh dan mendapatimu di sisian tempat tidur. Memberesi berkas di atas meja kerja yang dipenuhi remah juga jejak dari undak cangkir kopimu yang kesekian. Aku memilih corak dan warna kemejamu hari itu, lalu berjingkat mengingat celana bahan yang pas ternyata masih di keranjang cucian. Palet warna kerjaku hari itu berangkat dari sapu tangan yang kuselipkan di sakunya. Komputerku kubiarkan menyala: memeriksa surat elektronik, mungkin revisi atau mudah-mudahan saja invoice. Aku ingin bangun lebih awal daripada matahari yang menyembulkan keangkuhan. Aku ingin merenggut pagi lebih dulu, meraup sisa udara jadi bekal di perjalanan kita hari itu. Rutinitas kita rayakan dengan ciuman. Mungkin lama, atau sebentar, asal ia tak terduga. Melupakan pertengkaran yang kita hadapi tadi malam; gelut tubuhmu lebih baik dari raut muram kita berdua. Tapi kita boleh abai pada pikiran-pikiran itu. Masing-masing kita menyimpan rahasia di labirin yang tak ingin kita telusuri. Mungkin kekasihmu, atau ibu kekasihmu. Karenanya aku akan pergi membaca sepulang usai kencan kita hari itu. Mungkin menyendiri di perpustakaan umum atau menyelinap di antara ruang sinema lalu berpura menikmati hidup tanpa emosi yang tak berguna. Hingga pekan akan berjalan lamban tanpa aku pernah paham mengapa luka gemar menemui ngilunya sendiri. Maaf telah kebas dan aku tak percaya apapun dari perkataanmu. Tapi kutemui kau, lagi, di tiap akhir pekan. Berpura kekasihmu satu-satunya, berpura cinta memang ada pada semestinya. Kita tak perlu mengeja bahagia, sebab pada hari-hari biasa kita berhak saling melupa, saling mengacuhkan, dan saling menyakitkan. Tubuh kita tak mengikat perjanjian dan kucintai kau tanpa ikatan. Perasaan seringkali tak berguna, dan kuingat ke mana aku, selain akhir minggu, harus menyingkir tanpa gerutu. Mencintaimu hanya perkara bersetia pada jarak, dan kala dapat bekerja pada semesta yang tiba-tiba saja mengajariku mengeja ketekunan pada pijak: undur dan lenyap dalam pendar. Biar kenangan mencatat sajak dari anak ruhaninya sendiri; sedang kau, dapat hidup bahagia.

plannedparenthood:

image

Someone asked us:

Is promiscuity a bad thing?

Unfortunately some “promiscuous” women are judged in a negative way by society. But “promiscuous” men are more accepted in society, which is totally unfair.

Why do I keep putting “promiscuous” in quotes? Because there’s no standard definition of what it means. Some people might think that a person is promiscuous if he or she is involved with multiple sexual partners at the same time. Other people think a person is promiscuous if they have a certain number of partners over the course of a few years or longer. And for some people, promiscuity doesn’t necessarily mean having sex – to them, a person who goes on a lot of dates or makes out with a lot of people might be “promiscuous,” too.

So “promiscuity” is a word that can refer to a whole variety of different sexual behaviors. But in general, it’s a word that’s used to judge or shame people. And, again, it’s a term that’s most often directed at women.

Since the number of sexual partners you’ve had doesn’t say anything about your character, your morals, or your personality – or about anything at all really– there’s nothing bad or unhealthy about having a big number of sexual partners.

Some things that can be unhealthy include having sex before you’re ready, having sex to try to seem impressive or cool, having sex when you don’t want to, having sex with people you don’t like/trust/care about, and having sex without using protection – like condoms and birth control.

If none of those behaviors sound like you, and if you feel satisfied with and confident about your sexual decisions, you have nothing to worry about – even if someone calls you or your behavior “promiscuous.” And that’s also a good reason to hold off on judging or gossiping about other people’s sexual history, too.

- Alex at Planned Parenthood

(via feistyfeminist)

Lesson number whatever :
You don’t have to always be friends with anyone.

: w

apa kabar, tuan?

aku merindukan pantai, tapi tak seburuk keinginanku untuk merindukan segala perasaan dan debaran yang kita punya lepas tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu. aku pernah tidur di bawah bulan separuh, di tepi pantai yang airnya lamban naik menjamah ujung-ujung jari kakiku. tapi tidak ada kau di sana, tuan. karenanya kadangkala aku heran: barangkali ada bilik tersembunyi dalam otak kita yang tumpang tindih hingga kita memutar adegan-adegan manis untuk kita dalam prosa hanya remeh-temeh di hadapan kuah kacang atau butir nasi oseng yang tersisa di piringmu. tapi aku masih ingat betul wangi tubuh yang cerdik menghardik dari sela-sela lehermu malam itu. magis purnama dan aku lengah; tapi aku bahagia. sumir reka pikiran kita akan rangkai yang kita punya malam itu, tapi ceruk yang direnggut dari degup jantungku tidak. aku menginginimu, tuan; seburuk kulum purnama yang serakah aku lipat dan rebah di bawah selimutku tiap habis waktu. aku ingat wangi tubuhmu. juga puisi yang merekah di antara tubuhku dan tubuhmu. sedang kau, seperti ujung laut hari-hari ini—begitu jauh dan angkuh dan rinduku begitu rentan hari-hari ini. aku benci mengeja jarak ketika puisi dan doa tak lagi belajar mengobati apa-apa.

Jean Paul Sartre

(Source: notalkingplz, via booklover)

laki-lakimu bisa datang dan pergi; tapi hatimu tidak. aku lebih suka menyayangi dengan lumat yang sama dengan kepercayaan bahwa manusia dalam tiap hubungan romantiknya tak perlu berlangsung berlarut-larut: seperti laut yang tekun merentang kepergian dan pertemuan, lalu merangkumnya dalam intensitas waktu nan sumir. kusayangimu hari ini, tapi matahari, esok pagi, sebentar akan pergi.

: wisanggeni,

aku kutipkan ini dari Cawir. ia suwanggaling ketiga, yang mengaku melihat suami Surti sebelum laki-laki itu ditembak mati. seorang perempuan, yang tak dikenal suwanggaling yang kelak berwarna ungu itu, menghampiri suami Surti yang pamit pergi mencari mimpi. perempuan itu menghadapkan wajahnya pada wajah suami Surti yang berbaring di sisi makam sunan bernisan tulisan arab, dan berujar:

"Aku tak bisa memaafkan diriku: aku selalu memaafkan kamu. Aku selalu melihat ada alasan dalam lakumu, selalu ada tujuan. Mungkin itu yang membuat kamu tidak bahagia: selalu ada alasan, selalu ada tujuan.
Entah kenapa aku terpikat oleh ketidakbahagiaanmu itu. Ketika kamu mendekatkan tubuhmu ke tubuhku buat pertama kalinya, aku ingat kamu berkata: “Aku seorang pesimis yang tak bebas, yang harus membuat kita menang” —dan aku luluh. Aku terhanyut. Kamu komandan gerilya yang ganjil, dan aku merasa tak punya siapa-siapa lagi. Kesepian itu mungkin juga berahi.”

(Surti dan Tiga Suwanggaling - Goenawan Mohammad)

jonkakes:

ericscissorhands:

"Some women are lost in the fire. Some women are built from it."

(via proletarianinstinct)

“Aku menginginkan sebuah rumah di mana iman tak pernah asing dan Tuhan bagian dari kerja.”

—   Tan Malaka: sebuah esei, sebuah opera - Goenawan Mohamad

titraitor:

How to read a George Orwell book:

1. Open book

2. Read book

3. Close book

4. Stare off in to space for at least 4 consecutive hours questioning politics, media, authority figures and humanity as a whole until your entire perspective of social structure comes crumbling down around you and you wander about reality suddenly aware of your insignificance, ignorance and cattle-like demeanour 

(Source: iisfox, via haereticum)