amorfati

mondrn:

Jenny Holzer

(Source: evertestati, via zfrlb)

“Certain kinds of knowledge rob people of their sleep.”

—   Haruki Murakami1Q84 (387)

(Source: psych-facts, via psych-facts)

:

sayangnya kita tak kunjung dibekali pelajaran untuk mengabulkan perasaan sebaik kita menggumuli ingatan-ingatan. ada bau dari entah berapa ratus juta titik debu yang hinggap di kaki kita berdua: lekat dan lepas dan sejenak mencatat dengan ketekunannya yang ganjil akan kesetiaan pada waktu-waktu lalu. rindu seperti kecap manis yang tak kunjung dapat habis kita sesapi. bukan mengada-ada aku berkata, masih kuingat debar yang kupunya juga sentak juta kepak kupu yang gelisah di rongga perutku— juga aroma tubuhmu. sayangnya perasaan-perasaan memang tak berhak mengungguli kita mengecap derap waktu yang pejal: ingatan tentang perasaan tak pernah pandai mengembalikan perasaan-perasaan. kau mungkin pandai berlarian tanpa lagi ingat menoleh dan menggapai ujung-ujung jariku. aku juga mulai lebih gemar berjalan perlahan-lahan dan membagi waktu pada ruang yang mujur. kukecup kau sesekali tapi ragaku juga urung. dan mungkin kau juga. seperti kita juga lupa riang yang kita punya dari ucapan-ucapan selamat pagi atau pelukan sebelum tidur. kita memang tak pandai merawat perjumpaan, namun sayangnya kita terlanjur meredupkan kesemena-menaan yang menjadikan lumat perasaan kita dulu: dan kita tak kunjung tega menyadurkan waktu untuk undur. aku gemar menyebut diri tukang kebun yang pandai merawat kebun waktu hingga habis sesap teh susu yang kita seduh di halaman belakang. sedang kutemui tukang kebun tagore sore lalu: bahwa perpisahan adalah kesempurnaan; dan kau akan menyukainya.

Pierrot le Fou (Jean Luc Godard, 1965)

Linau & Tondano, North Sulawesi

“How torture is torture and humiliation is humiliation only when you choose to suffer.”

—   Chuck Palahniuk (Choke, 2001)

kemudian saya tiba pada kesimpulan ini:

bahwa yang pertama-tama dibutuhkan manusia modern untuk menjadi beradab bukanlah lagi membaca buku, melainkan menjauhkan diri dari segenap banalitas mental kawanan media sosial. apalah gunanya segenap bacaan selagi kita menyoraki agar peluru menembusi saja manusia yang kita anggap lawan politik. kita seperti tak jauh beda dari yang kita cegah untuk tak naik tahta.

saya tengah membaca lagi transkrip Existensialism is A Humanism-nya Sartre ketika sampai pada bagian di mana ia menjelaskan mengapa setelah pada Nausea ia  mencemooh para ‘Humanis’, ia meletakkan eksistensialisme sebagai humanisme. diberikannya contoh salah satu karakter yang terbang melintasi pegunungan dan bersorak, “Manusia begitu luar biasa!”
dalam bentuk humanisme yang bagi Sartre absurd itu, manusia, meski ia belum pernah membangun kapal terbang seperti yang dilakukan karakter itu, ia juga turut menjadi luar biasa oleh karena apa yang manusia lain telah lakukan ("…consider myself responsible for, and honored by, what certain other men have achieved.") kemudian, bagian berikut ini mengingatkan saya pada segenap ‘intelektual’ yang meletakkan nilai moralnya di atas rata-rata karena sedemikian rupa mendukung Jokowi tapi lalai tatkala menyoraki tembakan air cannon atau bahkan mesiu pada para pendukung Prabowo:

And we have no right to believe that humanity is something we could worship, in the manner of Auguste Comte. The cult of humanity leads ultimately to an insular Comteian humanism andthis need to be saidto Fascism. We do not want that type of humanism.

Why are you such slaves?
(Chuck Palahniuk - Choke, 2001)

Why are you such slaves?
(Chuck Palahniuk - Choke, 2001)

perhaps life would be much easier if we could eager to stop keeping things that leave constant scars.

“The truth was, if Christ had laughed on the cross, or spat on the Romans, if he’d done anything more than just suffer, the kid would’ve liked church a lot more.”

—   Chuck Palahniuk (Choke, 2001)
oldbookillustrations:

The plague.

Carl Larsson, from Singoalla, by  Viktor Rydberg, Stockholm, 1894.

A zip file containing the six illustrations of the latest series can be downloaded at this link.

(Source: archive.org)

oldbookillustrations:

The plague.

Carl Larsson, from Singoalla, by Viktor Rydberg, Stockholm, 1894.

A zip file containing the six illustrations of the latest series can be downloaded at this link.

(Source: archive.org)

“Problem terbesarku adalah menghilangkan waktu karena waktu membunuh. Di dalam kedigdayaan sang waktu manusia hanyalah mayat-mayat merah jambu. Jika waktu tak ada, manusia akan mengada, baka.”

—   Muhammad Isa Daud dalam Tentang Pengarang yang Merasa Telah Membunuh Roland Barthes dan Beberapa Alasan Mengapa Dia Menulis Novel Pendek (Buku Cerita Surga Sungsang - Triyanto Triwikromo)

null

barangkali memang benar bahwa kita hanya butuh akhir pekan yang baik untuk sekedar melarikan diri dari rutinitas, kerumunan yang palsu, serta omongan-omongan media sosial yang menjenuhkan. tadinya, saya kira, media sosial sedikit banyak dapat membangun realitas alternatif dari apa yang dipaksakan bagi diri kita untuk dihadapi sehari-hari. realitas alternatif yang terbangun itu, sayangnya, hanya menggandakan kepalsuan-kepalsuan diri yang kita sembunyikan dan kompromikan dengan apik. bagi saya, yang menakutkan saat ini ialah kecenderungan untuk ‘merekam’ hal-hal baik ke akun media sosial sesegera kita melakukannya. sebusuk-busuknya tingkah laku saya pada usia sekarang ini, saya masih menganut apa yang alkitab katakan dengan, “janganlah diketahui tangan kananmu apa yang dikerjakan tangan kirimu.” sewaktu kanak ibu saya mengajari untuk menggenggam seerat dan setertutup mungkin uang kolekte yang hendak dimasukkan ke dalam kantung yang diedarkan saat misa. sayangnya urusan-urusan moral dan kebaikan, sebanyak apapun nilai-nilai alternatif yang kita anggap telah kita ajukan dan lakukan di luar nilai-nilai konvensionalnya, tetap menuntut kita untuk menjadi ekshibisionis. lucunya kita bisa menutupi syahwat dan aurat tapi merasa tak perlu mempermasalahkan pameran kepongahan masing-masing kita untuk berkata bahwa, “lihat, saya berbuat kebaikan.” akhir-akhir ini saya dilanda rasa jijik yang luar biasa terhadap realitas alternatif di media sosial. seburuk kejengahan yang melanda di antara orang-orang yang bagi saya menakjubkan masih dapat bertahan hidup dengan cara berpikirnya yang sedemikian buruk. saat ini, sebenarnya, saya tak bisa tidur, dan menyusun rencana untuk menulis yang mungkin akan saya beri judul “gender, nevertheless” yang akan saya awali dengan pernyataan misoginis berbunyi: i despise pretty faces whose zero brain. tapi mengelaborasinya tentu butuh tingkat keterjagaan yang lebih baik dari jam-jam seperti sekarang ini. omong-omong tentang tulisan, saya jadi ingat catatan saya sehabis nonton transformer tempo hari, yang entah jika ingin saya bantah atau perkaya. yang pasti, sehabis nonton dawn of the planet of the apes kemarin, membuat saya lebih ingin terkekeh. independensi total sepertinya memang hanya bagus untuk kita rekam dalam prosa. ketergantungan adalah niscaya. kadangkala kita toh malas untuk benar-benar memilih dan bertanggung jawab atas setiap kebebasan yang dikutukkan pada kita. dan migrain mulai mampir di kepala tapi saya tak bisa tidur. saran saya, lain kali, selalu siapkan alarm sebentar apapun tidur siang kau rencanakan.