amorfati

null

barangkali memang benar bahwa kita hanya butuh akhir pekan yang baik untuk sekedar melarikan diri dari rutinitas, kerumunan yang palsu, serta omongan-omongan media sosial yang menjenuhkan. tadinya, saya kira, media sosial sedikit banyak dapat membangun realitas alternatif dari apa yang dipaksakan bagi diri kita untuk dihadapi sehari-hari. realitas alternatif yang terbangun itu, sayangnya, hanya menggandakan kepalsuan-kepalsuan diri yang kita sembunyikan dan kompromikan dengan apik. bagi saya, yang menakutkan saat ini ialah kecenderungan untuk ‘merekam’ hal-hal baik ke akun media sosial sesegera kita melakukannya. sebusuk-busuknya tingkah laku saya pada usia sekarang ini, saya masih menganut apa yang alkitab katakan dengan, “janganlah diketahui tangan kananmu apa yang dikerjakan tangan kirimu.” sewaktu kanak ibu saya mengajari untuk menggenggam seerat dan setertutup mungkin uang kolekte yang hendak dimasukkan ke dalam kantung yang diedarkan saat misa. sayangnya urusan-urusan moral dan kebaikan, sebanyak apapun nilai-nilai alternatif yang kita anggap telah kita ajukan dan lakukan di luar nilai-nilai konvensionalnya, tetap menuntut kita untuk menjadi ekshibisionis. lucunya kita bisa menutupi syahwat dan aurat tapi merasa tak perlu mempermasalahkan pameran kepongahan masing-masing kita untuk berkata bahwa, “lihat, saya berbuat kebaikan.” akhir-akhir ini saya dilanda rasa jijik yang luar biasa terhadap realitas alternatif di media sosial. seburuk kejengahan yang melanda di antara orang-orang yang bagi saya menakjubkan masih dapat bertahan hidup dengan cara berpikirnya yang sedemikian buruk. saat ini, sebenarnya, saya tak bisa tidur, dan menyusun rencana untuk menulis yang mungkin akan saya beri judul “gender, nevertheless” yang akan saya awali dengan pernyataan misoginis berbunyi: i despise pretty faces whose zero brain. tapi mengelaborasinya tentu butuh tingkat keterjagaan yang lebih baik dari jam-jam seperti sekarang ini. omong-omong tentang tulisan, saya jadi ingat catatan saya sehabis nonton transformer tempo hari, yang entah jika ingin saya bantah atau perkaya. yang pasti, sehabis nonton dawn of the planet of the apes kemarin, membuat saya lebih ingin terkekeh. independensi total sepertinya memang hanya bagus untuk kita rekam dalam prosa. ketergantungan adalah niscaya. kadangkala kita toh malas untuk benar-benar memilih dan bertanggung jawab atas setiap kebebasan yang dikutukkan pada kita. dan migrain mulai mampir di kepala tapi saya tak bisa tidur. saran saya, lain kali, selalu siapkan alarm sebentar apapun tidur siang kau rencanakan.

-

Kita mungkin tak perlu lagi percaya perihal omong kosong yang pernah hinggap di kepala kita tiap kuseduhkan kopi pagi untuk kita berdua. Ruang singgah yang begitu sementara hanya mengekalkan perasaan yang sia-sia. Aku bisa saja ingin terjaga pada subuh dan mendapatimu di sisian tempat tidur. Memberesi berkas di atas meja kerja yang dipenuhi remah juga jejak dari undak cangkir kopimu yang kesekian. Aku memilih corak dan warna kemejamu hari itu, lalu berjingkat mengingat celana bahan yang pas ternyata masih di keranjang cucian. Palet warna kerjaku hari itu berangkat dari sapu tangan yang kuselipkan di sakunya. Komputerku kubiarkan menyala: memeriksa surat elektronik, mungkin revisi atau mudah-mudahan saja invoice. Aku ingin bangun lebih awal daripada matahari yang menyembulkan keangkuhan. Aku ingin merenggut pagi lebih dulu, meraup sisa udara jadi bekal di perjalanan kita hari itu. Rutinitas kita rayakan dengan ciuman. Mungkin lama, atau sebentar, asal ia tak terduga. Melupakan pertengkaran yang kita hadapi tadi malam; gelut tubuhmu lebih baik dari raut muram kita berdua. Tapi kita boleh abai pada pikiran-pikiran itu. Masing-masing kita menyimpan rahasia di labirin yang tak ingin kita telusuri. Mungkin kekasihmu, atau ibu kekasihmu. Karenanya aku akan pergi membaca sepulang usai kencan kita hari itu. Mungkin menyendiri di perpustakaan umum atau menyelinap di antara ruang sinema lalu berpura menikmati hidup tanpa emosi yang tak berguna. Hingga pekan akan berjalan lamban tanpa aku pernah paham mengapa luka gemar menemui ngilunya sendiri. Maaf telah kebas dan aku tak percaya apapun dari perkataanmu. Tapi kutemui kau, lagi, di tiap akhir pekan. Berpura kekasihmu satu-satunya, berpura cinta memang ada pada semestinya. Kita tak perlu mengeja bahagia, sebab pada hari-hari biasa kita berhak saling melupa, saling mengacuhkan, dan saling menyakitkan. Tubuh kita tak mengikat perjanjian dan kucintai kau tanpa ikatan. Perasaan seringkali tak berguna, dan kuingat ke mana aku, selain akhir minggu, harus menyingkir tanpa gerutu. Mencintaimu hanya perkara bersetia pada jarak, dan kala dapat bekerja pada semesta yang tiba-tiba saja mengajariku mengeja ketekunan pada pijak: undur dan lenyap dalam pendar. Biar kenangan mencatat sajak dari anak ruhaninya sendiri; sedang kau, dapat hidup bahagia.

plannedparenthood:

image

Someone asked us:

Is promiscuity a bad thing?

Unfortunately some “promiscuous” women are judged in a negative way by society. But “promiscuous” men are more accepted in society, which is totally unfair.

Why do I keep putting “promiscuous” in quotes? Because there’s no standard definition of what it means. Some people might think that a person is promiscuous if he or she is involved with multiple sexual partners at the same time. Other people think a person is promiscuous if they have a certain number of partners over the course of a few years or longer. And for some people, promiscuity doesn’t necessarily mean having sex – to them, a person who goes on a lot of dates or makes out with a lot of people might be “promiscuous,” too.

So “promiscuity” is a word that can refer to a whole variety of different sexual behaviors. But in general, it’s a word that’s used to judge or shame people. And, again, it’s a term that’s most often directed at women.

Since the number of sexual partners you’ve had doesn’t say anything about your character, your morals, or your personality – or about anything at all really– there’s nothing bad or unhealthy about having a big number of sexual partners.

Some things that can be unhealthy include having sex before you’re ready, having sex to try to seem impressive or cool, having sex when you don’t want to, having sex with people you don’t like/trust/care about, and having sex without using protection – like condoms and birth control.

If none of those behaviors sound like you, and if you feel satisfied with and confident about your sexual decisions, you have nothing to worry about – even if someone calls you or your behavior “promiscuous.” And that’s also a good reason to hold off on judging or gossiping about other people’s sexual history, too.

- Alex at Planned Parenthood

(via feistyfeminist)

Lesson number whatever :
You don’t have to always be friends with anyone.

: w

apa kabar, tuan?

aku merindukan pantai, tapi tak seburuk keinginanku untuk merindukan segala perasaan dan debaran yang kita punya lepas tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu. aku pernah tidur di bawah bulan separuh, di tepi pantai yang airnya lamban naik menjamah ujung-ujung jari kakiku. tapi tidak ada kau di sana, tuan. karenanya kadangkala aku heran: barangkali ada bilik tersembunyi dalam otak kita yang tumpang tindih hingga kita memutar adegan-adegan manis untuk kita dalam prosa hanya remeh-temeh di hadapan kuah kacang atau butir nasi oseng yang tersisa di piringmu. tapi aku masih ingat betul wangi tubuh yang cerdik menghardik dari sela-sela lehermu malam itu. magis purnama dan aku lengah; tapi aku bahagia. sumir reka pikiran kita akan rangkai yang kita punya malam itu, tapi ceruk yang direnggut dari degup jantungku tidak. aku menginginimu, tuan; seburuk kulum purnama yang serakah aku lipat dan rebah di bawah selimutku tiap habis waktu. aku ingat wangi tubuhmu. juga puisi yang merekah di antara tubuhku dan tubuhmu. sedang kau, seperti ujung laut hari-hari ini—begitu jauh dan angkuh dan rinduku begitu rentan hari-hari ini. aku benci mengeja jarak ketika puisi dan doa tak lagi belajar mengobati apa-apa.

Jean Paul Sartre

(Source: notalkingplz, via booklover)

laki-lakimu bisa datang dan pergi; tapi hatimu tidak. aku lebih suka menyayangi dengan lumat yang sama dengan kepercayaan bahwa manusia dalam tiap hubungan romantiknya tak perlu berlangsung berlarut-larut: seperti laut yang tekun merentang kepergian dan pertemuan, lalu merangkumnya dalam intensitas waktu nan sumir. kusayangimu hari ini, tapi matahari, esok pagi, sebentar akan pergi.

: wisanggeni,

aku kutipkan ini dari Cawir. ia suwanggaling ketiga, yang mengaku melihat suami Surti sebelum laki-laki itu ditembak mati. seorang perempuan, yang tak dikenal suwanggaling yang kelak berwarna ungu itu, menghampiri suami Surti yang pamit pergi mencari mimpi. perempuan itu menghadapkan wajahnya pada wajah suami Surti yang berbaring di sisi makam sunan bernisan tulisan arab, dan berujar:

"Aku tak bisa memaafkan diriku: aku selalu memaafkan kamu. Aku selalu melihat ada alasan dalam lakumu, selalu ada tujuan. Mungkin itu yang membuat kamu tidak bahagia: selalu ada alasan, selalu ada tujuan.
Entah kenapa aku terpikat oleh ketidakbahagiaanmu itu. Ketika kamu mendekatkan tubuhmu ke tubuhku buat pertama kalinya, aku ingat kamu berkata: “Aku seorang pesimis yang tak bebas, yang harus membuat kita menang” —dan aku luluh. Aku terhanyut. Kamu komandan gerilya yang ganjil, dan aku merasa tak punya siapa-siapa lagi. Kesepian itu mungkin juga berahi.”

(Surti dan Tiga Suwanggaling - Goenawan Mohammad)

jonkakes:

ericscissorhands:

"Some women are lost in the fire. Some women are built from it."

(via proletarianinstinct)

“Aku menginginkan sebuah rumah di mana iman tak pernah asing dan Tuhan bagian dari kerja.”

—   Tan Malaka: sebuah esei, sebuah opera - Goenawan Mohamad

titraitor:

How to read a George Orwell book:

1. Open book

2. Read book

3. Close book

4. Stare off in to space for at least 4 consecutive hours questioning politics, media, authority figures and humanity as a whole until your entire perspective of social structure comes crumbling down around you and you wander about reality suddenly aware of your insignificance, ignorance and cattle-like demeanour 

(Source: iisfox, via haereticum)

Indonesia Bagian dari Desa Saya

Malam menjelang Pilpres ini, saya akhirnya rampung membaca buku kumpulan esai Cak Nun yang ditulisnya pada dekade 70an. Esai yang menutup buku ini sekiranya tepat untuk menjadi intermeso (jika bukan sebagai Pengantar karena beberapa kondisi kunci dari konteks sosial-politiknya cukup berbeda) sebelum Pemilu betulan kita hadapi esok pagi. Berikut ini saya ketikkan ulang esai Cak Nun yang judulnya juga dipergunakan sebagai judul buku.

***

Indonesia Bagian dari Desa Saya - esai Emha Ainun Nadjib

Indonesia merupakan faktor amat penting yang menentukan hampir setiap pertumbuhan, perkembangan, penyurutan serta perubahan kehidupan di desa saya. Maka, judul tulisan ini tidaklah bisa berbunyi sebaliknya, karena desa saya, saya yakin, sama sekali tidak merupakan bagian yang penting dari Indonesia, entah desa-desa lain. Tapi, jelas seandainya tak ada Mentoro, desa saya itu, Indonesia tetaplah Indonesia seperti sekarang ini. Satu-satunya perbedaan barangkali hanyalah sebuah titik amat kecil dalam peta Indonesia, di daerah Jombang sebelah timur, yang merupakan wilayah ‘luar negeri’. Alhasil, desa saya itu sampai hari ini tak pernah bicara apa-apa untuk suatu arti Indonesia. Dan sebaliknya, Indonesia telah berbicara sangat keras dalam kehidupan desa saya. Entah desa-desa lain. Itu suatu makna yang logis, tapi barangkali juga suatu ironi yang getir.

"Hari Coblosan" Pemilu baru saja kita lalui, didahului oleh suatu plot prolog yang penuh drama. Mungkin kita bisa diam-diam mencatat seberapa takaran demokrasi yang dipestaporakan, berapa jumlah nyawa yang terbunuh, berapa keranjang kanji kesejahteraan yang diberikan, berapa ribu lembar kalimat mulia yang dipidatokan, berapa juta poster persaudaraan dan persatuan keindonesiaan yang dipasang, maupun berapa karung penyelewengan atau berapa lautan ketidakjujuran yang ditumpahkan. Berapa miliar rupiah biaya yang dikeluarkan pun mungkin tak jelas benar, apabila kita sungguh-sungguh konsisten menatap konteks kepemiluan itu beserta seluruh usaha, jelas maupun samar, yang dilakukan. Akan tetapi jelas, tak seorang pun bisa menjamin mana yang lebih besar kuantitas dan kualitas kejadian tersebut yang bisa atau boleh ditampung oleh sejarah, dengan yang luput atau diluputkan olehnya. Indonesia demikian luas dan kejadian yang berlangsung di setiap jengkalnya memiliki dimensi yang berbagi-bagi, mengandung gerak yang mustahil tertangkap oleh kemampuan manusia, serta mempunyai beribu mozaik warna yang hampir tak tertampung oleh daya menggambar kita. meskipun bisa juga dipakai suatu garis global dan rangka dasar untuk menginventarisasi setiap gejalanya, namun setidaknya kehidupan bernegara dan bermasyarakat kita dewasa ini tidaklah mengandung perimbangan kekuatan-kekuatan, dalam arti apapun, yang bisa memberi harapan akan dimungkinannya suatu keadilan sejarah. Bahkan, Jenderal Yusuf yang bijak, sepulangnya dari Timur Tengah, menyodorkan gembok sejarah yang memiliki validitas formal dengan berkata: “Semuanya berjalan aman dan tertib. Aku bisa tidur tenang. Masyarakat hendaknya melupakan semua kejadian selama kampanye…”

Itu kata-kata yang agaknya tak cukup ringan untuk disangga. Sekitar kampanye saya berada di tengah gemerincing pedang di Yogya, tapi juga sering berada di desa. Saya berharap saya tak ingin menyangga kata-kata itu. Bahkan menyangga keterlibatan fisik dan moral di desa saya saja, desa yang tak punya arti apa-apa lagi bagi sebuah Indonesia itu, saya sudah cukup merasa keberatan. Di desa, kami menyangga Indonesia sebagai menjaga sekian ton besi, di mana kami bukanlah lifter-lifter yang profesional. Desa saya terdiri terutama dari kepolosan, kebodohan, dan kelemahan-kelemahan.

*  *

Nenek saya bertanya: “Nun, kalau Golkar menang, apa nanti tidak perang?” Saya tertawa. “Orang Indonesia itu baik-baik semua, Mbah –jawab saya– pokoknya Mbah tekun sembahyang, maka semua beres!” Nenek saya ini mungkin melihat Golkar sebagai barang baru yang asing, tetapi entah bagaimana, menakutkannya. Dengan begitu ia pun tak mungkin tahu bahwa sudah tiga kali ini Golkar ikut Pemilu dan leading terus. Ia memilih Kabah, karena ia pernah naik Haji dan itu merupakan kebanggaannya yang paling khusyuk, sehingga komitmennya terhadap baitullah itu sangat menenggelamkannya. Pengetahuannya tentang kabah tak ada hubungannya dengan Dardji atau Naro, bahkan juga tidak dengan calon wakilnya di Jombang.

Read More

pak jokowi, jadilah presiden saja, jangan jadi optimus prime

Sayangnya saya tak pernah betulan siap dengan revolusi, yang pernah gemar saya sitir, meski Prabowo menyediakan kesempatan untuk itu. Akan ada skenario kausalitas yang signifikan dan lebih masuk akal jika kita biarkan saja Prabowo menjabat sebagai presiden hingga rakyat mewujudkan revolusi yang sedemikian rupa. Jika para aktivis di media sosial masih saja membanggakan ‘nilai’ heroisme dirinya atas pengalaman popor senapan dan sepatu lars yang menghentak dahi atau bahkan peluru yang pernah mampir di organ tubuhnya, mestinya mereka biarkan saja Prabowo berkuasa untuk mengembalikan masa-masa keemasan mereka sebagai pejuang. Tapi sayangnya saya tak siap untuk itu. Pun saya tak yakin mereka yang tumbuh dewasa setelah Orde Baru tumbang benar-benar siap untuk itu. Dan saya rasa kita belum siap untuk mengafirmasi kebutuhan kita akan itu. Reformasi 1998 butuh 32 tahun untuk mengakumulasi setiap kemuakan dan kemarahan. Reformasi 1998 bukan persiapan kebut semalam para mahasiswa hingga menduduki gedung parlemen sampai Soeharto tumbang. Ada ratusan atau bahkan ribuan– orang tak bersalah yang harus dikurbankan demi reformasi. Kau tak akan pernah tahu luka yang harus dieram bertahun-tahun sesudahnya. Namun jelas bukan heroisme semacam itu lagi yang perlu kita agungkan lagi sebagai warga negara yang paripurna. Jika yang digaungkan adalah revolusi mental, semestinya dimulai juga ‘pembersihan’ mental yang menganggap diri lebih tinggi dan bernilai sebagai masyarakat kelas aktivis ketimbang masyarakat pada umumnya yang memperjuangkan hidup diri dan keluarganya sendiri dengan cara yang biasa-biasa saja. Karenanya, saya ingin sekali bilang: jika Jokowi akhirnya memperoleh mandat rakyat, cukuplah jadi presiden saja. Jangan jadi Optimus Prime.

-

Seperti hipster pada umumnya, saya turut serta dalam antrean tiket nonton Transformers 4 tengah malam minggu lalu. Pergi menonton dengan diawali adu mulut plus kerut kening dan otot perkara copras-capres memang bukan resep yang baik untuk kencan. Di tengah film yang bagi saya telah usai masa kekerenannya itu –karena masih dibayangi romantisme kejayaan Transformers seri awal– pikiran saya malah digelayuti satu sosok: Joko Widodo. 

Kebetulan seminggu sebelumnya, saya baru nonton How to Train Your Dragon 2. Terlepas dari alur dan logika cerita dari masing-masing film itu, keduanya memiliki kemiripan akan satu tabiat dari tokoh utama non-manusianya: ketertundukan dan kepatuhan pada individu tunggal ––Sang Alfa (The Alpha, Alpha Male, dan sejenisnya). How to Train Your Dragon menghadirkan Sang Alfa dengan terang-terangan: naga yang secara fisiknya paling gigantik di antara banyak naga lainnya. Sang Naga Alfalah yang mampu mempengaruhi perangai hingga tindak para naga. Dengan mudahnya para naga yang banyak jumlahnya itu, dengan komando tak kasat mata, menuruti ‘perintah’ Sang Alfa. Bahkan Toothless –naga yang menjadi tunggangan si tokoh utama, Hiccup– pada akhirnya malah menjadi penyebab kematian ayah sahabatnya itu sendiri, semata-mata karena pengaruh Sang Alfa yang Jahat. Sementara pola Sang Naga Alfa dengan naga jelata itu terlalu ekstrim untuk merefleksi manusia, ketergantungan terhadap Sang Alfa di antara para autobot Transformers sekiranya menjadi humor ringan nan relevan perihal heroisme kita menjelang Piplres ini.

-

Bukan sekedar omong kosong jika dambaan para pendukung terhadap Joko Widodo pada minggu-minggu sebelum masa tenang mendadak menyerupai dambaan terhadap Ratu Adil. Optimus Prime dalam Transformers 4 seperti meledek malam itu. Ia diburu lawannya dengan semangat sebesar para kawannya mendamba: selagi para Autobot diburu dan dihancurkan oleh elit CIA bersama robot pemburu bernama Lockdown yang keberingasannya disertai dengan persenjataan yang super-mumpuni untuk melumpuhkan, para Autobot tanpa pemimpin mereka itu menjelma mesin yang impoten. Kemunculan Optimus Prime-lah yang kemudian memberikan ‘tenaga’ bagi para Autobot yang pada dasarnya berkapasitas untuk membela diri serta terlibat dalam pertarungan menjaga manusia. Transformers 4 memang membosankan, tapi ayolah, kita bisa menertawai harapan-harapan kita yang berlebihan darinya.

Juga bukan bualan jika pada Joko Widodo kita menaruh segala pengharapan. Dikotomi persepsi akan sikap politik terhadap dua kandidat Capres dan Cawapres telah melenturkan pengharapan kita sepanjang hari penantian Pemilu. Gambaran tentang harapan akan kehidupan yang lebih baik telah lebih dari cukup hanya dengan terwujudnya kehidupan yang -setidaknya- tak menjadi semakin buruk dan bergerak mundur. Ada yang bilang, pada Pemilu 2014 ini kita bukan sedang memilih Presiden. Kita sedang menghadang Militerisme. Tidakkah mereka yang hingga pada saat ini memusatkan perhatian, bahkan tenaga dan waktunya untuk kemenangan Jokowi, sebenarnya didorong oleh keinginan untuk menghalangi Prabowo dan potensi militerismenya berkuasa? Bisa jadi Jokowi tak akan sekuat ini jika saingan satu-satunya bukan Prabowo yang belakangan ini isu pelanggaran HAM masa lalunya gencar dilesatkan ke permukaan, bahkan di antara masyarakat yang apolitis sekalipun.

Seperti upaya mengkompromi kekeraskepalaan para naga yang telah berada di bawah pengaruh Naga Alfa, mengikuti para pendukung Jokowi di media sosial jelas hanya akan membuatmu jengah. Menyamaratakan antusiasme dukungan terhadap salah satu kandidat pemimpin negara yang penduduknya tak dapat dirangkum dalam traffic media sosial dengan revolusi rakyat jelas sebuah kenaifan. Bias kelas yang terjadi secara subtil juga cukup mengubah tabiat mengurut dada jadi ingin menjedukkan kepala ke ujung meja, meski harus diakui, bahwa Joko Widodolah tokoh politik yang mampu menggerakkan sedemikian rupa golongan kelas menengah yang lebih sering diafiliasikan pada antipati naluriahnya terhadap politik. Meski, keberpihakan beberapa orang dari golongan kelas menengah terhadap Jokowi jelas dipengaruhi akan kemungkinan efek yang ditimbulkan Jokowi pada bidang di luar politik. Seperti seorang kolega yang menjawab bahwa ia akan memilih siapa saja kandidat capres yang baginya akan menaikkan harga saham yang dimainkannya di bursa. “Jelas kemenangan Jokowi yang akan menaikkan saham-saham saya, karena asing membenci Prabowo.”

Namun sayangnya, sisi-sisi lain semacam itu yang sepertinya sengaja diabaikan sebagai sebuah otokritik –sebuah upaya untuk berprogres, atau minimal catatan– sepanjang masa-masa kampanye. Segala yang baik pada Prabowo patut kita indahkan, pun berlaku pada efek samping-efek samping yang tak melulu absolut morally right dari Jokowi. Sebab, nilai moral kebenaran yang berlaku hanya satu: Prabowo tak berhak menjadi presiden; dan segala pertimbangan nalar yang fair dalam persaingan yang berpotensi membalikkan persepsi akan moral yang benar boleh saja kita kesampingkan untuk mewujudkan keputusan moral yang “ideal” itu. Yang berlaku sekarang ini hanyalah standar ganda dari berlakunya standar ganda itu sendiri: standar ganda boleh saja berstandar ganda selama ia kita berlakukan pada Pihak yang Jahat. People’s power?

Yang lebih absurd lagi justru kefasisan yang harus diakui telah terpental dari Prabowo (sosok) ke pada para pendukung Joko Widodo (massa). Jika Joko Widodo itu Kristus, saya bisa kutipkan kata Gandhi tentang Kristen: I like your Christ. I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ. Dikotomi moral yang mentang-mentang perlahan berubah jadi semena-mena. Saya rasa kita harus selalu ingat untuk melipat-gandakan kewaspadaan jika kita 1). Tenar, dan 2). Mayoritas; sebab ketika kondisi (1) dan (2) berlangsung sebagai latar belakang kita pada saat kita bertindak dan berucap bodoh, keramaian akan tetap setia memberikan tepuk tangannya.

-

Umat manusia, menurut semesta dalam Transformer 4: Age of Extinction, berada dalam ancaman kepunahan. Pun demikian masyarakat Indonesia menjelang Pemilihan Presiden. Keberlangsungan hidup kita sebagai warga negara kemudian bertumpu hanya pada dua kemungkinan: punah atau tercegah dari kepunahan. Kepunahan itu, tak lain dan tak bukan, disebabkan oleh Prabowo Subianto. Dan kita, seperti menerima komando sunyi, tengah menantikan kebangkitan Optimus Prime untuk menyelamatkan kita semua.

Saya tahu, kita toh tak bodoh-bodoh amat untuk menjelma seperti Autobots: pada dasarnya ‘jagoan’, tapi lebih gemar menghabis-habiskan potensi dari rancangan pada tubuh dan dirinya sendiri, hanya karena sang pemimpin tak memunculkan dirinya untuk tegak mendahului kita menghadapi lawan. Tidakkah menakjubkan melihat bagaimana seorang calon Presiden dapat sedemikian rupa menggerakkan setiap orang untuk turut serta dalam upaya memenangkan pemimpin pilihannya? Karenanya, jelas pula kita bukan Autobots yang mengerahkan energi hanya untuk ‘membangkitkan’ Sang Pemimpin Tunggal untuk jadi Juru Selamat kita semua.  Tenaga dan kekuatan massa yang digerakkan oleh dorongan dari dirinya sendiri untuk pemimpin pilihannya sendiri.

Tapi, kau tahu yang paling menyebalkan dari Transformer 4 yang menjenuhkan itu? Upaya menyelamatkan dunia yang dilakukan oleh Optimus Prime & gengnya dengan dibantu kelompok Cade Yeager justru menjarakkan dirinya dari “umat manusia” yang mereka bilang tengah mereka bela. Selayaknya Optimus Prime itu si Ratu Adil, kelompok manusia yang ‘diwakili’ Cade Yeager barangkali semacam para aktivis yang merasa dirinyalah titik sentral dalam upaya menjaga keberlangsungan umat manusia. Sementara, rakyat jelata, hanya figuran bagi heroisme yang dipertontonkan. Yang kita tahu hanya gedung-gedung kantor dan rumahnya remuk dihantam Optimus Prime terjerembab, bis dan kereta yang ditumpanginya hancur tertimpa BumbleBee, pertokoannya berantakan diserempet peluru Crosshairs, dan mungkin ratusan lainnya luka-luka atau bahkan meninggal terkena timpa Hound. Nama para umat manusia yang tengah mereka selamatkan itu pun kita tak tahu. Namun ketika Hound, misalnya, kehabisan tenaganya sama sekali untuk melawan, kita tersedu-sedu. Kita terkenang-kenang. Kemudian, pembunuhan terhadap Ratchet dan Leadfoot terus kita gaungkan hingga akhir hayat sebagai alasan yang paling ‘menjual’ untuk membela Optimus Prime dan gengnya.

Barangkali memang sudah ditakdirkan bahwa sekelompok orang memang harus menjadi Protagonis dan lainnya menjadi Antagonis dalam plot heroisme yang moralis. Sementara, sebagian lainnya harus tetap menjaga dirinya sebagai rakyat jelata agar plot heroisme itu dapat berjalan dan bekerja dengan mengagungkan. Toh, apa artinya jika para Autobots kembali ke sesamanya, di Cybertron, alih-alih menjadi pahlawan umat manusia di planet Bumi dengan janji “Honor to the end”? Toh, apa artinya jika para relawan cukuplah jadi masyarakat  biasa-biasa saja tanpa menganggap dungu dan tak berharga diri mereka yang bersyukur karena dapat gratis nasi bungkus plus selipan lembaran uang, sementara setiap hari dipajangnya status kerelawanan mereka sambil membanggakan bahwa dirinya telah ambil bagian dalam upaya mencegah kepunahan umat manusia dari kamar flatnya nun sejuk dan nyaman dan tak tahu rasanya menghadapi kelaparan? Pendukung fanatik Jokowi mesti diingatkan, “moralitas” yang dipegang teguhnya jangan sampai menggelincir dikotomi menjadi: 1). Orang, dan 2). Non-orang. Kita toh juga tak mau, heroisme sekelompok tertentu masyarakat hanya demi pertunjukkan yang eye candy macam Transformers 4. Karenanya, Pak Jokowi, cukuplah nanti jadi Presiden saja. Jangan jadi Optimus Prime.

(***)