sebuah paskah tanpa gereja

kamu tahu: aku memimpikan sebuah paskah tanpa gereja, seperti aku menginginkan sebuah natal tanpa pesta. di penghujung bulan keempat aku menghabiskan minggu - yang ternyata adalah paskah - dengan palma satu minggu sebelumnya yang tak dibasahi air yang dianggap suci. aku ingin berdoa tanpa perlu memejam mata atau mengepal tangan lama-lama.

spellthief:

If I’m able to, then perhaps I’ll be closer to portraying a true expression of love.

          -Hayao Miyazaki (x)

(via ghibli-gifs)

i love you, but enough is enough.

our circles have taken away our basic capability to survive within the most vulnerable circumstances that we could only fully understand alone. they build up the most compromised standard of values by degrading our authority to control satisfaction. our circles create the most deceiving delusion of existence. one is just too weak by depending most of her/his time by what her/his circle would agree. one is just too weak to affirm that the monotony of people within particular circles are destructive, and silently steal our very basic living; from us to none. at all.

kemudian saja media massa terus mengulang pemberitaan mengenai beberapa pembunuhan yang didasari oleh kecemburuan sebagai motifnya. entah mengapa media massa tak kunjung dapat belajar untuk dapat menjadi sedikit lebih pintar dengan alih-alih mengungkapkan pernyataan “cinta merenggut maut”, mereka berujar kalimat-kalimat sejenis “relasi kuasa yang timpang dan stereotipikal yang terus ditradisikan terhadap anak laki-laki bahwa perempuan hidup untuk dikuasai, terus merenggut maut.”

ada terlalu banyak orang menjijikkan yang terlalu takut kesepian. dibawanya modal-modal kebisingan: mulut yang bekerja menaklukkan nalar, pengeras suara yang tak memperhatikan orang, atau segala kegaduhan yang dipaksakan untuk mengaburkan keheningan. satu di antaranya menyandangkan status “kekasih” hanya untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. lucunya, orang-orang juga nampak terlalu bebal untuk belajar, belum-belum memberi contoh pada generasi di bawahnya, bahwa hanya orang-orang menyedihkanlah yang dapat begitu depresi tatkala tak memiliki pasangan. bagaimana mungkin ketika hanya rasa tak nyaman yang kita miliki selagi berhadapan dengan diri sendiri, ada orang lain yang kita harap-harapkan dapat merasa nyaman terhadap diri kita ini? kesepian tak menemukan keselamatannya di diri-diri orang lain.

karenanya kedunguan tanpa dasar yang mengisi kemudian, bukan hanya para remaja yang menginjaki usia puber tapi juga orang-orang berusia dewasa yang tak kunjung beranjak bijaksana: diri sendiri adalah kekosongan sehingga setiap manusia lain yang lekat dalam hidup kita harus selalu tunduk dan menjadi milik diri sendiri.

hanya orang-orang dengan kedunguan tanpa batas yang merasa kecemburuan sebagai pembenaran yang masuk akal untuk merenggut hak orang. tak ada yang manis dari posesivitas. tak ada yang manis dari kuasa yang timpang.

lucunya, masih banyak orang-orang dungu yang bertemu dengan orang dungu lainnya. bertemuan dan jatuh cinta. saling mengikat dan saling ketergantungan. saling kehilangan diri sendiri oleh karena baginya eksistensi terletak dalam kehadiran pasangannya yang sama kosongnya. yang lebih parah lagi pasangan-pasangan banal dan dungu itu menikah, tentu dengan pertimbangannya yang dangkal, kemudian berhubungan seksual dengan segala ketimpangan peran dan kuasa di antara keduanya, dan melahirkan anak. anak-anaknya tumbuh dalam didikan yang sama banalnya.

bayangkanlah berapa banyak orang yang merasa dirinya mulia dengan cinta yang omong kosong dan harus bertanggung jawab atas tumbuhnya para bajingan di kemudian hari.

"What if all women were bigger and stronger than you? And thought they were smarter? What if women were the ones who started wars? What if too many of your friends had been raped by women wielding giant dildos and no K-Y Jelly? What if the state trooper who pulled you over on the New Jersey Turnpike was a woman and carried a gun? What if the ability to menstruate was the prerequisite for most high-paying jobs? What if your attractiveness to women depended on the size of your penis? What if every time women saw you they’d hoot and make jerking motions with their hands? What if women were always making jokes about how ugly penises are and how bad sperm tastes? What if you had to explain what’s wrong with your car to big sweaty women with greasy hands who stared at your crotch in a garage where you are surrounded by posters of naked men with hard-ons? What if men’s magazines featured cover photos of 14-year-old boys with socks tucked into the front of their jeans and articles like: “How to tell if your wife is unfaithful” or “What your doctor won’t tell you about your prostate” or “The truth about impotence”? What if the doctor who examined your prostate was a woman and called you “Honey”? What if you had to inhale your boss’ stale cigar breath as she insisted that sleeping with her was part of the job? What if you couldn’t get away because the company dress code required you wear shoes designed to keep you from running? And what if after all that women still wanted you to love them?"

For The Men Who Still Don’t Get It, Carol Diehl (via ohtheherondales)

(Source: sassysluteverforever, via feministriots)

"Who taught me to suck in my stomach,
or my cheeks?
Who told me to stand with my legs apart
and my hips thrust back
to create the illusion of a gap
between my thighs?
Who made me believe that the most beautiful part of me
is my negative space?"

Negative Space  (via thatkindofwoman)

(Source: devonsdiary, via thatkindofwoman)

"Do not fall in love with people like me.
I will take you to
museums, and parks, and monuments,
and kiss you in every beautiful
place, so that you can
never go back to them
without tasting me
like blood in your mouth.
I will destroy you in the most
beautiful way possible.
And when I leave
you will finally understand,
why storms are named after people."

Katrina, M.K., & Unknown (via psych-facts)

(via psych-facts)

"Aku senang berpikir bahwa dari semua makhluk Tuhan, yang paling disukai Sang Pencipta adalah mereka yang berhasil memerdekakan diri. Bukankah seorang ayah senang melihat anak-anak lelakinya tumbuh dari bayi menjadi lelaki dewasa, bahkan andai cakar-cakar muda mereka sedikit melukainya sekalipun? Dan mengapa Tuhan tidak menjadi ayah yang murah hati seperti para ayah pada umumnya?"

Balthasar’s Odyssey - Amin Maalouf

Another Wasted Rita’s honest letter I like the most.

Another Wasted Rita’s honest letter I like the most.